Momen Tak Terkatakan

Di luar sana, semua orang membanggakan kelompoknya masing-masing. Kemeriahan perpisahan di posko masing-masing. Mengenang gelak tawa masing-masing. Bukan, bukan karena kita tak punya kenangan. Kita hanya terlalu buncah oleh hati yang entah sedang berperasaan apa.

Ketika yang lain punya cerita soal posko, kita akan ingat bahwa di sebuah sudut di kota ini, kita pernah punya cerita. Di sebuah sudut sebuah sekolah dasar yang penuh tawa anak-anak, berisik karena mereka senang kedatangan sebelas anak muda yang memberikan mereka harapan. Sibuk berebut tangan kakak-kakak mereka, terus mengalihkan perhatian kita yang bilang kalau kita nggak akan ngajar.

Datang terlambat disambut dengan sapaan polos anak-anak yang bahkan tak sadar gurunya sudah di depan memberikan instruksi gerakan olah raga selanjutnya. Berjalan masuk ke sebuah ruangan cukup besar di sudut sekolah itu. Mengambil tempat duduk asal di sebuah susunan meja dan kursi yang sengaja dirapatkan. Lalu kita menyebutnya posko.

Ah, harusnya kita sadar dari awal kalau waktu-waktu kita harus sempurna digunakan dengan baik di sana. Tapi bukan berarti selama empat puluh hari kemarin waktu kita sia-sia. Setiap puing detik yang kita habiskan disana adalah waktu yang berkualitas bukan? Waktu yang berkualitas untuk dihabiskan bersama orang-orang seperti kalian. Bertukar diam di hari-hari pertama, menularkan tawa canggung di hari-hari kedua, menghadirkan candaan bodoh di hari selanjutnya, kemudian tak terhitung sejak kapan kita mulai berbagi kecerobohan.

Kemudian di hari-hari selanjutnya, kita boleh menyebutnya dengan pelajaran. Belajar. Mengenal, menghadapi orang-orang seperti kalian. Pernah hampir menangis kesal karena kalian, waktu itu berharap kalau kita tidak pernah terlibat dalam semua ini.

Di hari-hari terakhir, kita sebut saja sebagai…

Momen tak terkatakan.

Signs of a Great Person

onlinecounsellingcollege:

1. They’re not easily offended, and don’t take things personally
2. They’re accepting, non-judgmental and always want the best for you
3. They respect others’ perspectives, needs and boundaries
4. They listen well to others, and try to see their point of view
5. They’re kind and understanding, warm, respectful and accepting
6. They’re trustworthy and loyal, and they think the best of you

Jalan

Dulu, ketika kita masih berjalan bersisian, satu hal yang paling kukhawatirkan adalah, kau akan memutar tuas kendali kita. Berjalan ke arah yang medannya lebih sulit. Ke tempat yang kuyakini, menapakkan jejak kesanapun, aku jerih.

Aku takut, ketika hari itu datang, kita harus memilah jalan kita. Kau dan aku, ke arah yang berbeda.

Sampai aku paham bahwa perbedaan itu indah, kuputuskan untuk berjalan—hei, bahkan jalan kita tidak berbeda. Tuhan lah yang memutuskan apakah kita pantas diberikan medan yang sulit atau mudah. Dia yang mengukur dengan sebaik-baik ukuran.

Kau tahu? Ternyata kita hanya saling menunggu berjumpa di satu gerbang bernama tujuan. Sekarang, kita hanya harus berjalan di jalan yang telah kita pilah masing-masing.

Kau tahu? Yang kau bilang dulu, ternyata tidak satupun salah. Fakta bahwa jalan ini indah, ajaib, sempurna, menakjubkan, dan luar biasa hebat untuk kita. Kita. Jalanmu untukmu, jalanku untukku.

Jangan lupakan satu tujuan kita kawan. Yang dulu sering sama-sama kita dendangkan. Allahu Ghoyatuna.

Sampai jumpa disana :’)

Menjadi Kakak

fadlillahocta:

image

Bagaimana rasanya, ketika semasa kecil dulu kamu menjadi satu yang dibanggakan oleh ayah dan ibumu, lalu kehadiran seseorang yang lain tiba-tiba mengubah segalanya?

Seseorang itu adalah makhluk kecil yang lebih muda darimu. Tiba-tiba ia merebut kasih sayang ayah dan ibumu. Perhatian mereka yang biasanya hanya tertuju padamu, kini harus terbagi dengan makhluk kecil itu. Kamu pun harus menyukainya—suka tidak suka—karena ayah dan ibumu sering menyuruhmu mengajaknya bermain, mengambilkan pakaiannya, membersihkan sisa makanannya, dan lain-lain sebagainya.

Kamu sebal. Kamu tidak terima.

Makhluk kecil itu diajari untuk memanggilmu “kakak”. Kamu tidak suka panggilan itu. Kamu akan menanggapi sekadarnya jika dia berbuat usil untuk menarik perhatianmu. Kamu masih begitu marah kepadanya. Sangat marah, namun kamu tidak bisa berbuat apa-apa.

Seiring berjalannya waktu, kalian sama-sama tumbuh dewasa. Kamu kini telah menjadi sosok yang dikenal dengan prestasi yang kamu miliki, begitu pula adikmu itu. Kamu masih memperlakukannya sedemikian biasa, tak pernah berbicara dari hati ke hati dengannya.

Adikmu selalu menyambut ketika kamu pulang ke rumah. Berteriak pada ibumu dengan riang bahwa kamu telah pulang. Adikmu akan membuntutimu hingga ke kamar, meminta untuk mendengarkan ceritamu di sekolah. Namun, tepat saat dia berada di depan pintu kamarmu, kamu justru menutup pintu dengan keras.

Kamu tidak suka menjadi kakak.

Hingga suatu hari, kamu melihat adikmu menangis di tengah taman. Di luar kesadaranmu, kamu pun berlari mendekatinya. Pakaiannya kotor terkena tanah dan pipinya tergores berdarah. Kamu melihat sekumpulan anak laki-laki di sudut taman itu sedang menatapmu penuh ketakutan. Kamu berdiri dan mendekati sekumpulan anak-anak itu. Mereka semakin ketakutan karena tubuhmu jauh lebih tinggi ketimbang mereka. Kamu bicara dengan nada tegas, membuat mereka semua terbirit-birit menghampiri adikmu dan meminta maaf.

Semua terjadi begitu saja, spontanitas di luar kesadaranmu. Adikmu menghapus airmatanya dan menggandeng tanganmu. Makhluk kecil itu membisikkan terima kasih dan mengajakmu pulang bersama sambil tersenyum manis.

Sejak saat itu kamu tahu, bahwa kamu menyayangi adikmu di luar kesadaran; di luar logika yang bahkan tidak dapat kamu mengerti.

Kamu mempererat genggaman tangannya. Kali ini juga tidak lupa untuk membalas senyumannya.

***

Jakarta, Agustus 2014

Oh, begitu rupanya cara kerjanya…

Baru (2)

Di babak ini, gue belajar buat paham sama aneka individu yang baru.

Belajar ngadepin orang nyablak.

Orang irit.

Orang unpredictable.

Orang suka harkos.

Orang yang hobinya telat.

Orang yang bisa bawa suasana.

Orang yang pengennya cepet-cepet pulang.

Orang yang bijaksana.

Orang yang rela berkorban.

Whata perfect colaboration. (halah)