Unconditional Positive Regard

Penerimaan tanpa syarat.

Ketika kuliah PPK—Pengembangan Pribadi Konselor—kemarin, ada satu kelompok yang mengajukan salah satu ciri pribadi konselor.

Unconditional Positive Regard. 

Bukan kosakata yang ga asing mungkin untuk seorang yang notabene kuliah BK selama hampir tiga tahun ini. Familiar. Tapi ternyata untuk menginternalisasi salah satu ciri pribadi konselor ini, kelihatannya agak susah.

Penerimaan tanpa syarat.

Pertama mungkin aku coba jelasin apa itu Unconditional Positive Regard. Positive Regard. Regard.

Regard dalam bahasa inggris artinya penghargaan, hormat, salam, berkenaan dengan. Pada frase ini, ada tambahan positive-nya. Positive Regard. Mungkin maksudnya “hal yang berkenaan dengan penghargaan yang positif.”

Unconditional. Un-Conditional. Tidak dikondisikan. Tidak dibuat-buat, reflek, impulsif, dari hati.

Dari sekian konseli yang datang ke ruangan kita, mereka beragam. Unik. Gak ada yang sama. Sebagai konselor, kita harus punya ini: Unconditional positive regard. Menghormati mereka, menerima mereka, menghargai mereka, secara positif. Tanpa dibuat-buat. Hanya karena ingin menerima. Entah mereka miskin, kaya, pintar, bodoh. Apapun masalahnya. 

Itulah yang membedakan konselor dengan profesi lain, mungkin. Ketika konseli menerima penolakan dari orang lain di sekitarnya, sebagai konselor, kita dapat menjadi salah satu orang yang bisa menerimanya. Tanpa syarat.

Unconditional. Itu yang susahnya. 

Sebagai konseli yang mungkin punya masalah, mereka akan sensitif sama orang yang natural—dalam hal ini unconditional—nerima dia, atau sekedar ingin nerima—apapun modusnya-_-

Pada tataran selanjutnya ketika konseli sudah merasa diterima, dihargai sebagai individu yang memiliki masalah, dia akan percaya. As we know, dapet kepercayaan itu gak gampang, makanya unconditional positive regard ini jatohnya susah juga hehe.

Dalam kehidupan sehari-haripun, masih suka pilah-pilih mau ngajak bicara siapa. Pilih-pilih mau berteman ke siapa aja. Belum bisa menanamkan unconditional positive regard.

Tiap ketemu orang baru, bawaannya, ngomong gini dalem hati.

Ih orang ini kenapa gini? Lah, kok dia gitu ya pemikirannya?

Hahaha, ga dewasa banget ya.

Padahal sekedar berteman, apa salahnya? Terlepas dari mereka akan menjadi teman yang akan kita percaya atau tidak ya hehehe.

Itulah, salah satu karakteristik yang ingin aku internalisasi belakangan. Setiap ada orang baru yang datang, aku ingin menerima mereka tanpa syarat. 

Namanya Syahid, Syahid Amanullah.

Di tengah hectic-nya tugas-tugas UTS sesekali berkunjung ke tumblr emang ampuh, sedikitnya membantu mencari jalan keluar kebuntuan. Karena memang, hampir semua tugas membutuhkan mood yang sempurna baik.

Tadi, tiba-tiba kangen Syahid. Laki-laki satu-satunya di rumah. Calon pengganti Abi.

Udah lama juga ngga pulang, terhitung setahun kalau memang gak menemukan kesempatan untuk pulang sampai Ramadhan tahun ini. 

Pas nelpon kemarin, yang pertama ngangkat dia. Udah besar rupanya dia, dulu waktu masih di pondok, kalo mau ngomong musti di loudspeaker. Kalau aku nanya sesuatupun sesekali harus dicontohkan Ummi atau Abi. Tapi kemarin, suara yang pertama aku dengar, suara dia. 

Syahid cerita, sekarang dia sering main bola sama anak kelas tiga, jadi penyerang, nyetak goal sekali. Dia juga udah belajar IPS, tapi pas ditanya masih gak tau aja jawabannya.

"Aku bisa mewarnai. Airnya warna biru muda, sama biru tua, sama putih. Rumputnya warna hijau tua, hijau muda, sama kuning. Bebeknya warna kuning semua."

Ah, adik laki-lakiku satu-satunya ini, sudah besar sekarang, Bi. Kalau ke masjid sudah nggak diantar Ummi lagi. Shubuh buta, dia sudah bisa pergi sendiri, bawa senter. Pulang-pulang Ummi selesai ngaji, habis itu dia boleh nonton TV. Dia bilang, sore dia baru mau ngaji. Sama Mbak Arin, sama Anton.

Dia yang paling sebentar merasakan suasana rumah dengan Abi. Kehilangan sosok yang membopongnya pergi ke kamar mandi, menawarkan jalan kaki atau naik motor ke masjid. Ah, mellow.

image

Hari pertama pakai seragam SD. Beberapa Minggu setelah Abi pergi. If ‘postman to heaven’ really exist, I’ll send you this first. 

Hiks. Beneran mellow kan.

Kertas

Sederhana. Atau sempit?

Dua-duanya kurasa.

Aku mulai merasa tulisanku semakin aneh saja. Ada banyak pretensi disana. Ada banyak yang tersembunyi, tersimpan disana. Tapi terbatas, oleh pengetahuan tentang bagaimana sebenarnya mengungkapnya.

Sudah berapa lama sejak terakhir aku menikmatinya? Menulis. Tanpa pretensi. Hanya menulis. Bahkan aku lupa.

Jumawa

Tercerita ada seorang perempuan jumawa. Sudah bangga atas apa yang telah dicapainya. Padahal jika dia melangit, akan ada langit lagi, akhirnya, Tuhanlah Yang Maha Tinggi.

Dia tersungkur. Betapa rendahnya dia apalagi sampai berani jumawa.

Buih

Belakangan, lebih banyak bicara daripada membaca. Lebih banyak mengkritik, protes. Menyalahkan lingkungan luar daripada menyelami betapa banyak rentetan kekurangan yang harus direkonstruksi. Jadilah seperti buih. Banyak, tapi kosong. Beramai-ramai tapi mudah lenyap.

Ya Allah…

CeritaJika #45 : Jika Suamimu Seorang Konselor

Kebanyakan laki-laki tidaklah sepertiku. Mereka terlihat gagah dengan profesi yang disandangnya. Profesi yang sampai saat ini sarat akan stereotip gender maskulinitas seperti dokter, pilot, arsitek, teknisi, dll. Sedangkan aku adalah seorang konselor.

Aku tidak tahu apakah ada seorang perempuan yang menginginkan aku untuk menjadi teman hidupnya yang akan selalu menghiasi setiap waktunya. Aku tidak tahu apakah ada seorang perempuan yang memiliki cita-cita memiliki suami seorang konselor. Entah adakah hal yang bisa dibanggakan dari profesiku ini yang membuat hati perempuan terpikat.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Aku ingin kamu mengerti bahwa tugasku sebagai konselor kadang membuatku lelah karena harus benar-benar mendengarkan permasalahan konseliku. Terkadang juga aku frustasi saat aku harus menginterpretasikan dan menganalisis semua asesmen yang telah aku lakukan pada konseliku. Maaf jika saat aku pulang, aku lebih banyak diam dan bahkan seperti tak mendengarkan perkataan atau keluh kesahmu. Kamu tak perlu marah kepadaku karena aku tak menghiraukan ceritamu. Mengertilah bahwa aku pun ingin bercerita mengenai hari-hariku yang tidak selamanya menyenangkan. Saat kamu melihat diriku sangat lelah dan bingung, cobalah peluk aku agar aku dapat lebih tenang. Percayalah bahwa aku telah memilihmu karena aku mau kita bisa saling bercerita tentang hari kita. Percayalah bahwa aku selalu berusaha mengertimu lebih dari usahaku untuk mengerti konseli-konseliku.

Mungkin sering kali kamu melihat diriku disibukkan dengan membaca banyak refrensi yang berkaitan dengan permasalahan konseliku. Lalu seketika aku mendapatkan jenis pendekatan atau teknik konseling yang ccock untuk konseliku buku itu berantakkan belum sempat aku bereskan pada tempatnya. Maafkanlah jika aku sering membuatmu merapikannya. Aku mohon kamu ikhlas mengerjakannya. Namun jika kamu lelah, ingatkanlah aku untuk merapikannya atau mungkin kita bisa sama-sama merapikan buku-buku itu bersama sambil kita bercerita sambil diselingi candaa, rangkulan, pelukan kecil saat kita merapikannya.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Tugasku sebagai konselor dituntut untuk memiliki banyak pergaulan. Semakin banyak dan bervariasi teman yang aku miliki, aku dapat memiliki banyak gambaran dan dapat mengerti banyak hal saat konseliku bercerita kepadaku. Jadi wajar jika aku selalu ingin terus menambah daftar pertemananku dari berbagai kalangan, profesi, budaya dan latar belakang. Aku mohon kepadamu bila saat aku sedang berkonsultasi atau mengobrol dengan teman-temanku, tolong janganlah kamu mencurigaiku secara berlebihan. Jika memang ada sikapku yang menurutmu kurang berkenan, ingatkanlah aku bahwa aku telah memilihmu untuk menjadi teman hidupku yang paling setia untukmu selamanya.

Konseli yang datang padaku juga tidak selamanya laki-laki. Kamu tahu kan bahwa populasi perempuan saja jelas lebih banyak ketimbang laki-laki. Sangat mungkin jika terdapat konseliku yang berjenis kelamin perempuan. Kemungkinan juga dia terlihat lebih cantik dan menawan atau terlihat lebih muda disbanding dirimu. Aku tahu kamu akan sangat ‘gerah’ jika aku harus mengadakan sesi pertemuan dengannya. Mulai saat aku membangun raport dengannya sampai akhirnya seluruh sesi konseling selesai dilakukan. Berilah aku kepercayaan bahwa aku tak akan melukai hatimu dengan berpaling kepdanya. Pada kode etik profesiku saja sudah dilarang jika terdapat perasaan seperti itu saat proses konseling. Kode etik itu ungkin bisa saja aku langgar, tapi janjiku padamu saat aku melamarmu dan menikahimu akan selalu ku coba jaga dan menepatinya karena saat aku meminangmu pastilah aku telah membuat kesepakatan dengan diriku sendiri untuk konsisten dengan apa yang sudah aku pilih, yaitu kamu, sayang.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Sebagai konselor, aku mengerti mengenai tugas-tugas perkembangan manusia sejak ia lahir sampai meninggal, mengenai perkembangan fisik, mental, kecerdasan, orientasi seksual, gender, kematangan karier dan lain-lain. Karena hal seperti itu adalah mata kuliah yang sudah ku tempuh selama di universitas. Jadi jika aku sedikit mendebatmu saat kita membesarkan buah cinta kita, percayalah karena aku bukan ingin menjadi lebih baik darimu di mata mereka. Aku hanya ingin anak-anak kita tidak mengalami hambatan yang besar pada tugas perkembangan di usianya. Aku tahu naluri keibuan hanya dimiliki olehmu, tapi aku ingin kita bisa menjadi tim yang super saat kita mendewasakan anak-anak kita.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Bantulah aku mengasah kemampuanku. Kemampuanku untuk mengerti dan peka terhadap perasaan yang terkandung pada setiap masalah yang kamu utarakan padaku. Jika aku salah mengerti atau salah meresponnya. Janganlah jadi perempuan kebanyakan yang hanya diam atau jika ku tanya “kamu kenapa?” hanya dijawab “tidak apa-apa”. Aku belajar membaca Bahasa tubuh seseorang sewaktu kuliah, jadi saat aku mendengar kata itu dengan raut wajah yang tidak konsisten dengan kata “tidak apa-apa”mu aku tahu bahwa ada “apa-apa” yang kamu sembunyikan dariku.

Mengertilah bahwa setiap hubungan dua insan sangat memerlukan komunikasi yang terjalin dengan baik. Bukan hanya pada sebuah hubungan suami dan istri, hubungan pertemanan dan persahabatan pun butuh komunikasi. Aku memohon kepadamu untuk saling terbuka, Jelaskan saja jika ada hal yang mengganggu perasaan dan pikiranmu. Mengertilah bahwa kamu bukan menikahi seorang peramal. Aku hanya konselor yang mencoba menginterpretasikan perasaan melalui bahasa verbal dan nonverbal. Aku ingin tak ada hal yang kamu tutup-tutupi atau kamu rahasiakan dariku. Terbuka saja denganku, suamimu. Mari kita berbagi rahasia tentangmu dan tentangku, lalu kita rahasiakan ini hanya berdua saja ya, sayang. Tapi maaf aku tidak mungkin memberitahukan rahasia konseliku, karena itu bukan rahasia tentangku. Pahamilah, profesiku sebagai konselor memiliki amanah yang begitu besar untuk menjaga kerahasiaan. Percayalah apa yang aku tidak aku ceritakan tidak ada sangkut pautnya dengan rumah tangga kita.

Duhai perempuan yang kelak menjadi istriku,

Jika aku banyak membantu konseliku membantu mengetahui dirinya, menerima dirinya, mengembangkan dirinya dan mengatasi masalahnya, bantulah aku untuk memahami diriku dan mengoptimalkan potensiku dan satu hal yang harus kamu tahu. Aku memilihmu untuk menjadi istriku agar kita bisa saling memahami diri kita dan saling membantu mengatasi permasalahan kita bersama. Lalu kita asuh buah hati kita dengan pola asuh yang dapat mengoptimalkan potensinya. Karena ku yakin dengan bersamamu, semuanya akan baik-baik saja. Karena bersamamu aku akan mencapai kebahagiaan dan aktualisasi diri bersama.

———————————————————————————————————

pengirim :

Ardo Trihantoro

Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Konseling 2011, Universitas Negeri Jakarta

ceritaJika project : X

Hahaha, temennya airenhaibara nih mesti :p

Berputar, balik arah. Terserah.

Sekarang, tulisan ini harus selesai. Semoga ngga bersambung lagi.

Ini tentang perjalanan. Sebuah perjalanan yang sebenarnya belum sepenuhnya aku mengerti. Tapi, coba aku maknai. Selanjutnya, aku kan bicara analogi. Tentang kenapa aku bisa sampai, membiarkan diriku terlibat di dalam sebuah jalan ini.

Aku pernah berdiri di peron kereta. Aku belum pernah tau kemana aku harus pergi. Kulihat teman-temanku melangkah  ke sebuah gerbong. Ada yang ragu, sekedar ikut, digandeng dengan kenalan barunya, bahkan ada yang sambil tersedu melangkah kesana. Beberapa yang lain mengajakku, menjanjikan banyak hal, mengikrarkan segala kebaikan. 

Untuk apa? Kemana?

Kemudian aku berputar, balik arah. Membiarkan sang masinis meniupkan peluit keberangkatan di belakangku.

Untuk apa? Kemana?

Aku sendiri bertanya-tanya dalam ketertinggalanku. Kenapa aku bisa sampai peron kalau aku tidak turut bersama teman-temanku?

Aku bergeming. Untuk kemudian benar-benar membiarkan kereta itu melaju.

Sebelum berangkat, temanku sempat berbisik.

"Kereta ini akan tetap melaju. Dengan atau tanpa kamu."

Tapi kereta ini akan kemana? Membawa kita ke tempat apa?

"Ke tempat yang sudah dijanjikan. Syurga."

Lantas, hanya kereta inikah yang bisa membawa kita ke sana? Bukan kah kita bisa naik pesawat, sepeda, merangkak pun?

"Bisa, boleh. Silahkan. Tapi, dengan kereta ini kita bisa kesana bersama. Kita, bersama-sama kesana. Sekarang."

Berputar, balik arah. Terserah.

Deru kereta sudah hampir tidak terdengar. 

Aku harus menunggu pemberangkatan selanjutnya. Sebelumnya, aku akan mengajak yang lain. Mengajak ikut serta. Sebelum terlambat. Ah, ya. Aku juga akan mengajakmu. Kamu.